Jalan-Jalan di Amsterdam

Prev : Jalan-Jalan di Paris Disneyland

Daftar Perjalanan di Amsterdam:

  • Red-light District
  • Molen Van Sloten windmill
  • Shopping Streets
  • Dam Square

Tiba di Amsterdam pada malam hari bukan berarti tidak ada kegiatan. Setelah check-in di Hotel Multatuli dan mandi, kita langsung ke luar untuk jalan-jalan. Jam menunjukkan hampir jam 10 malam, tetapi suasana di sekitar Amsterdam Central Station tempat hotel kami masih saja lumayan ramai.

Anda jangan berharap menemukan tempat wisata yang megah seperti Colosseum atau menara Eiffel atau metropolis seperti London. Amsterdam adalah kota yang menawarkan suasana eksotik dengan bangunan khas nya yang sekaligus kuno juga klasik. Puluhan kanal yang membelah kota ini membuat setiap sudut jalan terlihat indah. Waktu seolah berjalan lambat di sini, nikmati kota Amsterdam dengan santai.

Fly to Amsterdam:
Anda bisa menemukan informasi Schipol Airport dan tiket pesawat murah di fly.co.uk

Kawasan yang dikenal dengan nama Old Center (Kota tua) adalah pusatnya turisme termasuk juga di sini mencakup kawasan yang dinamakan red light district. Walaupun namanya cukup sangar dan kalau di kota lain biasanya dijauhi orang, red light district di Amsterdam justru menjadi salah satu icon dan menjadi tujuan utama para wisatawan. Prostitusi yang diharamkan di banyak negara justru legal dan menjadi pemasukan utama negara karena para pramunikmat tersebut (hehe... disopankan sedikit namanya) harus membayar pajak yang cukup besar kepada negara.

Untuk menuju ke kawasan red light di Amsterdam ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Lokasinya di selatan stasiun Amsterdam Central dan di sebelah timur Damrak street. Keluar dari stasiun ke arah kiri, lalu menyeberang dan susuri jalan Damrak. Jalan ini terdapat canal di sebelah kiri, susuri hingga menemukan belokan ke kiri. Nah mulai dari sini biarkan insting yang membawa Anda, ikuti saja keramaian orang di sini hingga jalan Zeedijk. Kawasan yang terdiri dari beberapa blok dan dibelah canal ini hidup mulai sore jam 5 hingga jam 3-4 dini hari.

Adalah hal biasa orang datang jalan-jalan dan melihat-lihat saja melewati kawasan penuh jendela-jendela berwarna merah. Sama sekali tidak perlu takut diganggu atau bahaya kriminal karena polisi (walaupun tidak kelihatan) berjaga penuh. Yang pasti jangan coba-coba nekad mengambil foto ke arah pekerja seks itu, beberapa laporan di Internet mengatakan kamera orang bisa dirampas dan dihancurkan. Area ini juga terdapat beberapa sexshop, peep show, bar, hingga restoran 24 jam,

Sudah malam .... karena bawa istri... jadi ga berani lama-lama deh di red light :), pulang deh ke hotel.

Pagi-pagi bangun untuk sarapan yang sangat lezat, kami bertemu dengan waitress yang bisa berbahasa Indonesia.. rupanya orang tuanya adalah orang Ambon yang hijrah (atau dipaksa hijrah sepertinya) oleh Belanda dahulu. Yah, jangan heran banyak restoran dengan menu Indonesia di Amsterdam, masakan kita termasuk cukup favorit walaupun harganya sudah ikut standar Euro.

Transportasi di Amsterdam dioperasikan oleh GVB, meliputi tram dan bus, juga termasuk metro train. Untuk menjelajah Amsterdam sebenarnya cukup menggunakan tram yang punya 18 jalur. Jangan bayangkan tram itu kuno seperti di Hong Kong. Tram di Amsterdam adalah moda transportasi canggih, cepat, dan juga bebas polusi. Tiket dapat dibeli dalam bentu strippenkaart, yaitu seperti kartu absen ceklok, yang berisi 15 strip seharga Euro 6.90 (sekarang Euro 7.30).

Kartu ini dapat dipakai di metro maupun tram. Sekali perjalanan di tram jarak dekat akan distempel 2 strip, sedangkan jauh akan distempel 3 strip. Kartu ini dapat dipakai sharing asalkan jujur dan masih cukup. Kalau bingung, cukup naik tram lalu serahkan kartu kepada kondektur untuk distempel.

Kartu lain yang baru diimplementasi di Amsterdam adalah OV-chipkaart , seperti Oyster atau Octopus card yang dapat diisi ulang.

Ke negara Belanda, tentu saja kita ingin melihat kincir angin. Amsterdam sebenarnya bukanlah tempat yang tepat untuk melihat kincir angin. Kota Eindhoven adalah tempat yang lebih tepat. Tapi jika penasaran dan cuma punya waktu di Amsterdam, kita bisa ke Molen Van Sloten windmill, sedikit jauh memang. Lokasinya bisa dicapai dengan naik tram no.2 hingga stasiun terakhir, lalu dilanjutkan jalan kaki sekitar 15 menit.

Kincir angin ini lebih berfungsi sebagai aksesorisĀ  karena tidak ada angin yang cukup kencang di tengah kota Amsterdam.

Kembali ke stasiun Amsterdam Centraal, kami menyewa sepeda di MacBike Bicycle Rental. Toko mereka persis berada di gedung stasiun yang menghadap ke luar. Sewa sepeda seharian akan dikenakan biaya 7 euro.

DSC05622

Perlu dicatat bahwa rata-rata sepeda yang dipakai di Amsterdam adalah 'tanpa gigi' alias genjot aja, dilengkapi dengan 2 macam kunci (sepeda bakal hilang kalau tidak dikunci). Satu hal lagi adalah sepeda ini tidak ada rem tangan, untuk mengerem caranya adalah membalik arah genjotan kaki. Awalnya mungkin belum terbiasa mengayuh pedal sepeda model ini, tetapi lama-lama Anda akan menikmati keliling kota Amsterdam dengan sepeda ini. Kita bebas membawa sepeda ke mana pun asalkan harus dikembalikan sebelum jam 5.30 sore.

Amsterdam adalah kota yang sangat memperhatikan pengguna sepeda. Di mana-mana terdapat jalur khusus sepeda dan memang banyak orang memakai sepeda ke mana-mana. Mobil dan motor pun akan mengalah jika berhadapan dengan sepeda. Walaupun demikian patuhi rambu-rambu dan perhatikan adanya zona larangan sepeda.

Dengan sepeda ini, mulailah kami menuju ke shopping street di sekitar sini. Mulai dari flower market di Bloemenmarkt hingga ke Leidsestraat dan Prinsengracht. Di sebuah toko buku, harga buku novel dan buku-buku travel begitu murah, hingga 'terpaksa' kami borong.

DSC05631 DSC05624

Karena bentuk jalan dan kanal di Amsterdam rata-rata mirip, mudah sekali kita mendapati ternyata hanya berputar-putar di suatu tempat. Untuk itu pastikan selalu melihat peta (sambil bersepeda) untuk mencari tempat tujuan.

DSC05632

Satu lagi tempat yang kami kunjungi adalah Dam Square (pedestrian Museum Fatahilah katanya adalah replika Dam Square). Kawasan ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang, duduk-duduk sambil melihat kawanan burung merpati. Di sini juga terdapat museum Madame Tussauds, replika dari London.

Jika Anda ingin menuju Keukenhof, taman bunga tulip yang dibuka hanya pada musim semi, caranya harus menuju bandara Amsterdam Schipol dulu pakai metro, lalu naik bus shuttle khusus nomor. 58 yang membawa turis ke Keukenhof setiap 15 menit.

Malamnya setelah makan dan ambil koper, menggunakan metro kami menuju stasiun Amstel. Keluar dari stasiun terdapat pool bus Eurolines yang akan kami naiki untuk menuju Frankfurt. Sengaja kami pilih waktu berangkat jam 10 malam supaya bisa efisien dan tiba di Frankfurt paginya.

Next>>: Jalan-Jalan di Frankfurt

29 January 2009
blog comments powered by Disqus