Roadtrip dari Kaohsiung ke Chihpen

Artikel ini adalah bagian dari Panduan Jalan ke Taiwan.

Hari ini adalah hari ketiga saya dan istri berada di selatan Taiwan. Setelah 2 hari jalan-jalan di Kaohsiung, saatnya check-out dan melakukan road trip menuju Chihpen.

Setelah check-out dari Moon Lake Hotel, kita menuju Zuoying station menggunakan MRT. Ke sini untuk pick-up mobil rental di PonyRent yang sudah kita book sebelumnya via Internet. Yang kita sewa adalah Ford Fiesta dengan rate NT$ 2200 perhari, karena sewa 3 hari jadi dapat free GPS (yg sangat membantu dan perlu!). Karena sewa saya rute one-way, akan dikembalikan di Taipei jadi kena one-way charge NT\$1500.

Setelah sukses ambil mobil, saatnya membiasakan diri dulu menyetir mobil dengan kemudi di sisi kiri dan orientasi traffic. Yah ini kali pertama saya menyetir di kota dengan traffic yang terbalik dengan umumnya di Indonesia, jadi 30 menit pertama itu jalannya relatif pelan dan beloknya agak kagok. Dengan modal GPS Garmin yang disediakan memasukkan beberapa tujuan/POI. Entry GPS ini dalam bahasa pinyin, jika sulit cukup masukkan nomor telepon tujuan, maka alamatnya akan ketemu.

Jalanan di Taiwan juga ada speed limit, untuk dalam kota sekitar 60km/jam, dan highway biasanya 90-100km/jam (akan ada peringatan dari GPS jika ada speed cam). Menyetir tidak akan terlalu melelahkan  walaupun mobil cukup banyak, karena jalan dalam kota Kaohsiung yang lebar-lebar, umumnya lurus terus (grid system) dan banyak traffic light. Begitu masuk highway maka jalanan mulai lengang dan mulus.

Plan awal saya sebenarnya adalah ingin melalui South Cross-Island Highway (Route 20) untuk menuju Taitung. Ini katanya jalan yang pemandangannya paling indah di Taiwan, juga adanya Lisong Hotspring (masih kepengen dijajal). Sampai sebelum berangkat masih ragu-ragu (karena membaca artikel adanya gempa dan longsor beberapa tahun lalu sehingga menutup jalan akses ini), jadi untuk malam ini saya bahkan belum ada booking hotel, just want to see sejauh mana bisa jalan.

Hingga akhirnya semalam menemukan website yang menerangkan bahwa rute 20 ini masih belum bisa dilalui jadi saya harus melalui rute selatan (arah Kenting) untuk bisa naik lagi ke arah Taitung. Berdasarkan estimasi waktu, berarti memang saya harus menginap di sekitar Taitung atau Chihpen. Kira-kira beginilah rute yang saya ambil (A: Kaohsiung, B:Foguangshan, C:Chihpen).

View Larger Map

Foguangshan

Pertama kita meluncur ke Foguangshan (佛光山) monastery, sebuah monastery Buddha 30 menit perjalanan dengan mobil dari Kaohsiung. Rute ini agak deviasi dari rute ke selatan karena Foguangshan sendiri ada di Timur Laut Kaohsiung. Kompleks ini sangat luas, dari parkiran mobil hingga main building mungkin perlu jalan kaki 800 meter. Tapi viewnya memang bagus dan tentu mempunyai nilai spiritual (jiahh).

Gedung pertama yang tampak dari luar terlihat seperti kelenteng besar, ini juga sudah lumayan jauh jalannya dari parkiran mobil. Sekali masuk ternyata adalah semacam mall, ada restaurant, toko makanan, toko menjual cenderamata, dan ada 7-Eleven pula di dalam :) Memang untuk menjadi organisasi sosial yang self-sustain tidak bisa mengandalkan donasi semata, namun harus putar otak mencari sumber dana, tul gak?

Di belakang gedung ini barulah deretan pagoda dan jalan menuju Great Buddha, patung setinggi 36m berwarna emas dalam posisi duduk. Setiap pagoda yang ada di kiri dan kanan berlantai 6, dan kayaknya gak ada tangga yah. Ini semacam tempat retreat dan tempat tinggal.

Di bagian fondasi patung Buddha ini ternyata berupa ruang pertemuan dan aktivitas pula. Ada tempat memutar film, tempat meditasi, hingga tempat belajar menulis sutra (diberikan kertas yang sudah ada template tulis huruf kanji). Naik lift beberapa tingkat baru tiba di bagian dasar dudukan patung.

Selesai dari kompleks ini sudah sekitar jam 1-2 siang. Kembali geber mobil saya ke selatan ambil highway nomor 3, melewati Fangliao hingga Fengkang baru belok ke timur ambil highway no. 9. Perpindahan dari west coast ke east coast ini jalanannya berkelok-kelok dan relatif sempit.

Saatnya perut lapar karena belum sempat makan siang yang proper? Kita melipir ke 7-Eleven masih di daerah Fangliao. Kalau di Taiwan, 7-Eleven menjual aneka makanan dan snack yang enak-enak. Kita coba oden, berupa bakso-bakso dengan gratis mie untuk pembelian jumlah tertentu. Rasanya nikmat!

Hari sudah menjelang malam saat saya memasuki daerah Chihpen, kota khusus melayani turis yang ingin menikmati nikmatnya hotspring. Kotanya kecil dan terletak di lereng bukit jadi jalanannya penuh tanjakan. Akhirnya tibalah kita di Rainbow Resort Hotel.

Setelah urusan check-in beres dan masuk kamar, buru-buru saya dan istri ingin mencoba berendam di hotspring di dalam hotel ini, artikelnya saya bahas di sini.

Artikel berikutnya: Chihpen dan Taitung

Cari Hotel Murah