Menggapai Puncaknya Para Dewa, Mahameru

Pertengahan Desember 2013 lalu saya memiliki kesempatan untuk menggapai puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa. Sebenarnya trip ini merupakan alternatif dari tujuan utama saya, karena pada awalnya saya dan teman-teman berencana untuk mendaki Rinjani di Lombok. Yup, gunung Rinjani yang terkenal dengan keindahan alamnya hehe. Tapi berhubung waktu itu harga tiket pesawat lagi memuncak, dan walaupun ada harga tiket yang cukup murah di Traveloka.com, tetapi jumlah kursi dengan harga tersebut sangat terbatas sehingga kami mengurungkan niat dan memutuskan untuk menjelajahi gunung yang lebih dekat dulu. Mau tau gimana serunya mendaki puncak abadi para dewa di Jawa? Yuk kita simak ceritanya di bawah ini ya.

Berbekal persiapan fisik dan mental selama 1 bulan sebelumnya, saya mantap untuk mendaki dan juga menikmati Gunung Semeru.

Ya, Gunung Semeru namanya, gunung tertinggi di pulau Jawa ini memiliki puncak yang bernama Mahameru.

Dalam pendakian ini saya membawa sahabat dan juga teman satu kampus yang biasanya memang sering pergi bersama untuk mendaki gunung. Sejujurnya, saya sangat tidak sabar akan pendakian ke puncak Mahameru ini karena konon memiliki pemandangan alam yang indah, kata orang-orang yang pernah mendakinya

Untuk menuju ke Gunung Semeru, kami terlebih dahulu harus menumpang kereta Matarmaja jurusan Pasar Senen-Malang dan dilanjutkan lagi menuju Pasar Tumpang. Dari pasar tumpang kami melanjutkan dengan menyewa jeep untuk menuju desa ranu pane tempat dimana kami memulai pendakian. Sesampainya di Desa Ranu Pane, kami segera mengurus Surat Izin Masuk Konservasi (SIMAKSI) agar pendakian kami bisa secara resmi diketahui oleh pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Setelah selesai mengurus simaksi, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu di salah satu warung yang ada di sekitar. Selesai makan kami segera packing ulang dan kembali mengecek kondisi fisik dan juga hal-hal lain yang diperlukan selama pendakian. Setelah semua persiapan dirasa sudah cukup, kami pun memulai pendakian ini.

Berangkat dari pos pendaftaran kita akan berjalan terlebih dahulu sekitar 800 meter menuju gapura yang akan mengarah ke jalur pendakian resmi Gunung Semeru. Di gapura ini kita akan melihat ada dua jalur pendakian yaitu jalur resmi melalui watu rejeng yang mengarah masuk ke gapura dan jalur tidak resmi melalui ayek-ayek yang berada di depan saat kita melihat. Kami pun memilih untuk melewati jalur resmi yang telah ada guna menjaga agar perjalanan kali ini tetap aman dan nyaman bagi kami semua. Memang, jalur ayek-ayek menawarkan jalur pintas sehingga jarak tempuh dari ranu pane yang merupakan pos awal hingga ke ranu kumbolo bisa memakan waktu hanya sekitar 3 jam saja, berbeda sekali dengan jalur resmi yang memakan waktu 5 hingga 6 jam perjalanan. Akan tetapi dengan medan yang menaiki dan menuruni bukit, jalur ini dianggap cukup berbahaya untuk pendaki sehingga tidak dijadikan jaur resmi oleh pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Jalur ayek-ayek ini pun hanya sering digunakan oleh penduduk sekitar yang akan meuju ranu kumbolo untuk efisiensi waktu.

Sesaat saya melirik jam untuk menghitung waktu tempuh yang akan kami lalui dari Ranu Pani ini menuju Ranukumbolo nanti. Jam ditangan saya menunjukkan pukul 17.00 WIB. Perjalanan awal menuju pos watu rejeng ini terbilang cukup landai akan tetapi kadangkala kita akan menemui banyak ranting dan juga pohon bertumbangan di depan kita. Hal ini akan memaksa kita untuk berjalan jongkok agar bisa melewati hadangan ranting dan juga batang pohon yang ada. Perjalanan menuju pos watu rejeng ini juga sering diisi oleh break time untuk sekedar minum dan juga meluruskan kaki guna mengisi tenaga dan juga agar tidak cepat lelah tentunya. Ketika waktu telah menunjukkan pukul 17.45 dan langit mulai gelap, guide tim kami pun segera menginstruksikan agar semua pendaki memakai senter untuk menerangi perjalanan.

Pendakian di malam hari memang memiliki beberapa keuntungan dan kelemahan. Keuntungannya adalah kita akan merasa cepat sampai karena kita tidak terlalu banyak berhenti untuk melihat di sekitar. Kondisi yang sangat dingin pada malam hari juga akan memaksa kita untuk terus berjalan agar kondisi tubuh tetap hangat. Kelemahannya adalah tentunya kita tidak bisa menikmati keindahan alam karena kita tidak bisa melihat yang ada di sekeliling kita. Kondisi malam hari yang sangat dingin juga akan cepat membuat kita capek karena tubuh lebih banyak membakar kalori.

[

Setelah perjalanan selama 6 jam tepatnya pada pukul 23.00 WIB akhirnya kami sampai juga di Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo merupakan sebuah tempat yang biasanya dijadikan camp bagi para pendaki yang akan naik ke Mahameru. Disini terdapat danau yang airnya cukup bersih dan bisa dimanfaatkan untuk mengisi ulang air minum yang telah habis. Pemandangan yang sangat indah disini juga menjadi alasan mengapa banyak pendaki yang ingin camp di tempat ini. Setelah sampai di ranu kumbolo, kami langsung segera mendirikan tenda untuk tempat kami menginap malam ini. Sesaat setelah tenda berdiri beberapa teman saya ada yang memilih untuk memasak mie instan karena ingin mengisi kembali tenaga dan juga menghangatkan badan. Saya sendiri memilih untuk meminum susu jahe hangat karena sepanjang perjalanan dari ranu pani tadi saya sudah cukup sering untuk makan sehingga segelas susu jahe hangat akan menjadi penutup malam yang sempurna sepertinya untuk saya.

[

Tepat pukul 05.00 saya terbangun oleh keributan yang ada diluar dimana banyak para pendaki telah bangun dan bersiap untuk melihat sunrise di ranu kumbolo ini. Saya pun tidak mau kelewatan momen ini sehingga saya langsung bangun dan bergegas keluar untuk melihat sunrise bersama para pendaki lain. Sungguh pemandangan yang menakjubkan ketika sang surya perlahan-lahan mucul dari balik bukit yang ada di seberang danau ranu kumbolo ini. Meskipun suhu sangat dingin namun semua orang yang menyaksikan langsung bergegas untuk berfoto ria dengan latar belakang sunrise tentunya. Setelah puas melihat sunrise, jam 07.00 kami segera buat sarapan karena perjalanan akan segera dilanjutkan menuju oro-oro ombo, cemoro kandang dan akan camp kembali nanti sore di kalimati.

Tepat pukul 09.00 setelah semua tim selesai packing, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Butuh waktu sekitar 7 hingga 8 jam perjalanan untuk menuju Kalimati ini. Namun perjalanan selama itu tidak akan terasa mengigat sepanjang perjalanan kita akan melihat indahnya hamparan bunga lavender yang ada di oro-oro ombo, hutan cemara yang memukau di cemoro kandang dan juga pemdangan Mahameru yang dengan gagahnya bisa kita lihat dari pos kalimati ini.

Tepat pukul 17.00 kami telah sampai di pos Kalimati yang merupakan pos tempat para pendaki untuk menginap sebelum menuju ke puncak Mahameru pada dini harinya. Sesampainya di kalimati saya pun segera mendirikan tenda dan memasak mie instan. Guyuran hujan sepanjang perjalanan menuju kalimati memang membuat tenaga saya terforsir habis karena medan semakin berat dengan adanya guyuran hujan tersebut. Setelah memasak, saya pun segera tidur untuk mempersiapkan energi untuk summit attack menuju puncak Mahameru nanti malam.

[

Pukul 23.00 saya dibangunkan oleh teman satu tenda saya untuk segera mempersiapkan diri pendakian menuju puncak Mahameru. Suhu di luar tenda sangatlah dingin, saya sendiri membutuhkan 2 lapis jaket dimana bahan polar dibagian dalam dan waterwind di bagian luar jaket. Kami semua berkumpul terlebih dahulu untuk mengecek kembali kondisi fisik masing-masing pendaki dan juga persiapan logistik untuk menuju puncak ini. Beberapa pendaki akhirnya memilih untuk tidak ikut naik kek puncak dengan alasan kondisi fisik yang tidak fit. Saya sendiri merasa cukup yakin dan mampu untuk terus menuju puncak Mahameru ini.

Tepat pukul 00.00 kami akhirnya memulai pendakian menuju puncak Mahameru ini. Perjalanan menuju puncak ini akan melintasi medan yang sangat curam dan berat sehingga tas keril kami dititipkan di tenda yang ada di pos kalimati. Kami pun hanya membawa tas daypack kecil yang berisi makanan dan juga minuman untuk pendakian. Suhu yang sangat dingin dan juga kondisi langit yang masih sangat gelap memaksa kami untuk berjalan sangat lambat. Setelah berjuang cukup lama akirnya pada pukul 06.00 saya sampai juga di puncak tertinggi di pulau jawa ini. Saya pun langsung bersujud dan bersyukur bisa menginjakkan kaki di puncak Mahameru ini. Suatu pengalaman yang luar biasa dan perjuangan yang sangat menyiksa saya pikir. Akan tetapi semua itu akan terbayar dengan pemandangan yang bisa kita lihat dari puncak ini.

Di puncak Mahameru suhu sangat dingin dan angin bertiup sangat kencang. Saya pun memutuskan tidak berlama-lama di puncak ini. 07.00 saya pun mengajak tim saya untuk segera turun ke pos kalimati dan kembali pulang. Itulah sedikit cerita yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Nah, bagi anda yang berencana mengunjungi puncak Mahameru ini ada baiknya untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, karena pendakian gunung termasuk olahraga yang sangat berbahaya.

Keep Safety Guys!

Airbnb
Komentar

Panduan Wisata

Cari Artikel Lama