Berikut saya coba share beberapa tips untuk mempercepat pengumpulan miles.
Fokus hanya pada 1-2 Frequent Flyer Program saja Mengumpulkan miles itu tergolong proyek jangka panjang. Jadi kita harus fokus mengumpulkan point miles itu di satu atau dua keranjang saja. 1000 miles itu gampang, tapi 100,000 miles itu perlu waktu sangat lama kalau kita bukan business traveller yang selalu dibayarin kantor.
Stick to the airlines & partners Pastikan menghafal semua partner airlines untuk membership kita. Misalkan kalau Garuda yang tergabung dalam SKYTEAM yah berarti partnernya adalah KLM, AirFrance, China Airlines, dll. Ini memberikan kita opsi untuk rute yang tidak dilayani Garuda, atau pas tiket Garuda Indonesia lagi mahal-mahalnya. Demikian pula jika Anda mempunyai membership di airlines yang tergabung di OneWorld atau Star Alliance, diingat nama-nama member airlinesnya.
[
Lanjutan dari artikel Mengenal Frequent Flyer Program.
Semua orang bisa menjadi anggota dan mengumpulkan miles. Yang paling mudah adalah mengisi form registrasi secara online, atau bisa juga mengisi form yang biasa diselipkan di dalam in-flight magazine airlines. Misalkan saya contohkan cara join program GarudaMiles.
Pertama kita ke website GarudaMiles, lalu cari link untuk menjadi anggota. Setelah itu akan muncul form isian yang minta informasi seperti nama, alamat, dan seterusnya. Begitu kita submit dan sukses, maka otomatis akan diberikan nomor anggota yang perlu kita catat, atau print kartu sementara. Kartu aslinya (yang keras seperti kartu kredit) baru akan dikirim setelah kita melakukan penerbangan pertama atau aktivitas yang menghasilkan miles/points.
Setiap kali melakukan reservasi (online atau pun lewat agent), kita harus menyebutkan nomor anggota ini. Juga saat checkin in case data belum diinput.
Kali ini mari kita mengenal lebih jauh tentang loyalty program yang ada di industri penerbangan, yang sering disebut Frequent Flyer Program (FFP).
Artikel ini dibuat berseri, berupa 3 bagian
Tujuan utama Frequent Flyer Program adalah untuk mempertahankan kesetiaan (loyalty) para pelancong atau businessman untuk selalu menggunakan airlines yang bersangkutan supaya tidak noleh-noleh ke kompetitornya. Konsep program cukup sederhana: setiap kali melakukan penerbangan dengan airlines bersangkutan, maka akan dapat point atau biasa disebut miles. Nantinya point yang ada dapat ditukar berbagai reward yang disediakan, tapi biasanya yang dikenal orang adalah award atau free flight, alias terbang gratis, atau bisa juga dalam bentuk upgrade (misal economy ke business classs).
Ada dasarnya hampir semua full-service airlines mempunyai loyalty program. Setiap airlines mempunyai program dan nama tersendiri. Misalnya kalau untuk Garuda Indonesia (GA) dulu pakai nama GFF (Garuda Frequent Flier), sebelum berganti nama di tahun 2014 menjadi GarudaMiles. Atau maskapai tetangga Singapore Airlines (SQ) dengan KrisFlyer, KLM dan AirFrance dengan FlyingBlue, dan lain-lain.
Setelah mengalami delay yang cukup lama dalam peluncurannya, termasuk 'perlawanan' AirAsia yang menolak pindah, akhirnya KLIA 2 resmi beroperasi tanggal 2 Mei 2014. KLIA 2 resmi menggantikan LCCT dengan daya tampung jauh lebih besar dan fasilitas lebih baik.
KLIA 2 menjadi bandara untuk low-cost carrier terbesar di dunia, sekarang resmi menampung airlines seperti AirAsia, Tiger Air, Malindo Air dan Lion, serta Cebu Pacific.
Yang paling dirasa oleh penumpang adalah tidak ada lagi naik turun tangga ala pesawat low-cost, karena semua penerbangan harus memakai belalai (garbarata). Jadi tidak bakal kepanasan atau kehujanan.
Semua orang memiliki gaya travelling sendiri-sendiri. Layaknya tipe smartphone, pengguna BB, Android, ato IPhone memiliki style tersendiri. Tidak ada ilmu yang benar dan exact layaknya rumus matematika, semua bebas dengan ekspresi masing-masing.
Javamilk sendiri adalah penganut travelling yang cenderung bebas atau istilah kami koperpacker. Sukses untuk bisa bereksplorasi dengan sistem transportasi, budaya negara, keunikan tiap negara yang ditemui adalah suatu kepuasan tersendiri, tanpa mengurangi kenyamanan.
Namun, dikarenakan situasi dan kondisi, kadang-kadang apa yang kita prefer harus dikalahkan oleh kondisi. Karena sedang berbicara tentang jalan-jalan, si koperpacker ini kadang-kadang harus mengikuti jalan-jalan dengan versi paket atau kerennya disebut group tour.
Tim Ho Wan adalah restoran yang mendapat predikat the world cheapest Michelin-starred restaurant. Rata-rata yang mendapat bintang Michelin adalah restoran fine-dining, dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah per course, sedangkan dimsum satu porsi hanyalah puluhan ribu.
Kali ini JavaMilk menjajal restoran dim sum ini di hometown-nya langsung: Hong Kong.
Awalnya bermula di restoran daerah Mongkok. Karena jumlah pengunjung tidak seimbang dengan jumlah kursi dan space, expansi hingga sekarang restoran Tim Ho Wan mempunyai beberapa outlet di Hong Kong. Sedangkan restoran di Mongkok sudah ditutup karena masalah harga sewa.
Pertama bisa kita datangi adalah di Sham Shui Po, lalu North Point, Olympian City sebagai tempat pindahan dari Mongkok. Sedangkan yang paling mudah dicapai turis adalah di IFC Mall.
](http://www.telegraph.co.uk/travel/foodandwineholidays/7145607/Tim-Ho-Wan-restaurant-Hong-Kong-the-hottest-meal-ticket-in-town.html)
Autogate di Cengkareng Airport (CGK) sudah sejak 2013 ada, tetapi sepertinya utilisasinya masih cukup rendah, at least sepanjang pengamatan saya. Sepertinya masih banyak orang yang tidak tahu atau meragukan kemampuannya :)
Autogate adalah pintu imigrasi otomatis, di mana kita tidak perlu berhadapan lagi dengan petugas imigrasi untuk mendapatkan stempel imigrasi keluar/masuk Indonesia. Dengan memasuki autogate, kita cukup melakukan scan passport dan sidik jari, proses yang hanya perlu 1-2 menit, tentu saja bebas antrian (untuk saat ini).
Fasilitas Autogate sejauh ini baru ada di Terminal 2 Soekarno-Hatta International Airport. Jadi belum ada di Terminal 3 bagian Internasional. Saat kita mau melewati imigrasi di Terminal 2, di bagian paling kanan disebelah crew/priority line, di situlah terdapat 3-4 line khusus autogate.
Yang bisa menggunakan fasilitas autogate adalah semua pemegang passport RI, jadi bukan terbatas pada yang punya e-passport. Jadi bagi kita yang punya passport biasa (tanpa chip) juga bisa memanfaatkan autogate. Bagaimana caranya?
Pertama, jika belum pernah dilakukan, kita harus melakukan registrasi dan pemindaian sidik jari. Tempatnya juga di bagian imigrasi Bandara Terminal 2. Jika Anda sudah di area imigrasi, perhatikan ada 2-3 meja di dekat kaca pembatas yang dijaga oleh petugas. Tinggal datangi meja tersebut sambil menyerahkan passport. Proses ini hanya beberapa menit, di mana petugas akan meminta kita scan sidik jari, lalu stempel halaman terakhir passport kita dengan tulisan "autogate", artinya data sudah diambil dan kita bisa melalui autogate.
Membeli souvenir saat jalan-jalan tentu menjadi hal yang dianggap wajib bagi travellers. Mulai dari gantungan kunci hingga postcard adalah barang standard yang pasti ada ke mana pun kita jalan.
Tujuan souvenir itu tentu sebagai pengingat atau kenang-kenangan buat kita kalau pernah mengunjungi tempat wisata sebuah kota. Jadi souvenir seperti ini bukan buat dibagi2 ke orang lain, yang pergi aja belum, gimana bisa diingat :)
Nah, kalau saya selain magnet kulkas, sejak dulu tertarik untuk koleksi dan membuat 3D puzzle bangunan dunia. Sesuatu banget gak? hehehe.
Ini kira-kira bentuk jadinya:
3D Puzzle ini terbuat dari semacam lempengan styrofoam, tinggal kita detach, dilipat, lalu dirangkai sesuai petunjuk.
Beli 3D Puzzle semacam ini di mana? Kalau di Jakarta paling mudah ke toko Gramedia, merek CubicFun, harga sekitar 100rb-300rb-an satu set, tergantung jumlah pcs yang harus dirangkai dan kerumitan pembuatannya. Ada yang lebih mahal lagi kalau dilengkapi lampu LED di dalam bangunan :)
Jepang
Australia
Thailand
Korea
Baca juga artikel dan tips wisata terbaru.
Wed 28 January 2026
Tue 11 November 2025
Sun 22 June 2025
Cari artikel lama? Ada di Archives